SoftBank adalah salah satu perusahaan paling unik di dunia yang mulai dari distributor software kecil di Jepang, lalu berubah menjadi raksasa telekomunikasi, dan akhirnya menjadi mesin investasi yang berani bertaruh besar di teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (AI). Di balik semuanya ada satu sosok penting yaitu Masayoshi Son, pendiri sekaligus CEO yang terkenal sangat visioner sekaligus sangat berani mengambil risiko.
Di artikel ini kita akan membahas SoftBank mulai dari sejarah, model bisnis, SoftBank Vision Fund, kegagalan dan keberhasilan besar, sampai strategi terbaru mereka yang “all-in” di AI.
Asal-usul SoftBank dari distributor software jadi konglomerat teknologi
SoftBank didirikan tahun 1981 oleh Masayoshi Son di Jepang. Awalnya, bisnisnya sangat sederhana: distribusi software untuk komputer pribadi (PC) di Jepang yang waktu itu sedang mulai berkembang.
Nama “SoftBank” sendiri berasal dari gabungan kata “software” dan “bank”, idenya nama tersebut muncul karena mereka ingin menjadi semacam “bank” yang menyuplai software bagi pasar komputer yang sedang tumbuh. Dari awal, Son sudah berpikir besar bahwa ia tidak mau hanya jadi perusahaan dagang biasa, tapi ingin membangun ekosistem teknologi.
Memasuki tahun 1990-an dan awal 2000-an, SoftBank mulai agresif masuk ke berbagai bisnis baru:
- Investasi di perusahaan internet dan teknologi.
- Kerja sama dengan Yahoo! sehingga lahir Yahoo! Japan, yang sempat menjadi portal internet terbesar di Jepang.
- Masuk ke bisnis telekomunikasi dengan membeli operator seluler (Vodafone Japan) dan mengubahnya menjadi SoftBank Mobile.
Langkah-langkah ini membuat SoftBank beralih dari sekadar distributor software menjadi konglomerat teknologi dan telekomunikasi yang besar di Jepang.
Filosofi besar SoftBank “Information Revolution – Happiness for everyone”
SoftBank punya visi yang sangat panjang, mereka sering bicara tentang strategi 300 tahun dan “Information Revolution – Happiness for everyone” (Revolusi Informasi – Kebahagiaan untuk semua orang).
Artinya apa?
- Mereka percaya informasi dan teknologi akan mengubah cara hidup manusia secara radikal.
- SoftBank ingin berada di pusat perubahan itu dengan membangun, memiliki, atau berinvestasi di perusahaan yang mengendalikan infrastruktur dan platform digital masa depan (telekomunikasi, internet, AI, robotika, dsb).
- Visi mereka bukan cuma 5–10 tahun ke depan, tapi ratusan tahun. Ini sangat berbeda dengan banyak perusahaan lain yang biasanya fokus pada target 3–5 tahun.
Filosofi ini menjelaskan kenapa SoftBank berani mengambil keputusan yang terlihat “gila” bagi banyak orang dengan memberikan investasi ratusan miliar dolar ke startup teknologi, mengumpulkan dana investasi raksasa, dan sekarang “all-in” di kecerdasan buatan (AI) dan bahkan artificial super intelligence (ASI).
Masayoshi Son sebagai tokoh di balik SoftBank
Untuk memahami SoftBank, kita harus memahami Masayoshi Son.
- Ia dikenal sebagai sosok yang sangat visioner, optimis, dan berani mengambil risiko besar.
- Salah satu cerita legendarisnya yaitu investasi SoftBank di Alibaba. SoftBank menanam sekitar 20 juta dolar di awal, dan nilai investasi itu kemudian tumbuh menjadi puluhan miliar dolar, menjadikannya salah satu investasi paling sukses dalam sejarah.
- Di sisi lain, ia juga membuat banyak keputusan investasi yang kontroversial, misalnya di WeWork, Katerra, dan startup lain yang kemudian bermasalah.
Media sering menggambarkan Son sebagai “gambler” (penjudi) di dunia teknologi, seorang yang mau bertaruh sangat besar atas keyakinannya mengenai masa depan.
Bagi sebagian orang, ini menginspirasi. Bagi investor konservatif, ini menakutkan. Tapi apapun penilaiannya, hampir semua sepakat bahwa tanpa Son, SoftBank tidak akan menjadi seperti sekarang.
Transformasi jadi perusahaan investasi dengan lahirnya SoftBank Vision Fund
Puncak transformasi SoftBank menjadi “mesin investasi” terjadi ketika mereka meluncurkan SoftBank Vision Fund pada tahun 2017.
Beberapa poin penting tentang Vision Fund:
- Vision Fund adalah dana investasi teknologi dengan skala raksasa dengan lebih dari 100 miliar dolar AS yang menjadikannya dana investasi teknologi terbesar di dunia.
- Sumber dananya bukan hanya dari SoftBank, tetapi juga dari investor besar lain seperti, Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, Mubadala (Abu Dhabi), dan perusahaan-perusahaan seperti Apple.
- Visi Vision Fund: menanam modal besar di perusahaan teknologi yang dianggap bisa menguasai masa depan, terutama di bidang AI, transportasi, fintech, e-commerce, logistik, dan lain-lain.
Secara sederhana, Vision Fund itu seperti “super venture capital”. Mereka tidak hanya memberikan beberapa juta dolar, tapi bisa ratusan juta sampai miliaran dolar ke satu perusahaan. Fokusnya banyak pada perusahaan yang sudah di tahap pertumbuhan (growth/late-stage), bukan startup yang baru lahir. SoftBank kemudian meluncurkan Vision Fund 2 dengan modal puluhan miliar dolar lagi, sebagian besar dari kas SoftBank sendiri.
Sukses besar dan kegagalan besar Vision Fund
Dengan skala dana sebesar itu, Vision Fund secara alami menghasilkan dua hal yaitu kemenangan spektakuler dan kegagalan spektakuler.
Contoh keberhasilan:
- Investasi di Coupang, perusahaan e-commerce Korea Selatan, yang memberikan keuntungan besar saat IPO dan sempat mendorong Vision Fund mencatat laba ratusan miliar yen di tahun fiskal 2020/2021.
- Sejumlah investasi lain di perusahaan teknologi yang kemudian nilainya naik seiring booming sektor teknologi.
Namun, ada juga kegagalan besar:
- WeWork perusahaan coworking yang semula digadang-gadang sebagai “masa depan kantor” namun mengalami kejatuhan setelah gagal IPO, masalah tata kelola, dan valuasi yang terlalu tinggi. SoftBank harus menyelamatkan WeWork dengan dana besar dan mencatat kerugian besar.
- Startup seperti Katerra, Zume, dan lainnya yang gagal, ditutup, atau nilainya turun drastis.
Akibat kombinasi valuasi yang terlalu tinggi dan kejatuhan saham teknologi, Vision Fund mencatat kerugian rekor:
- Tahun fiskal 2021/2022, Vision Fund dilaporkan rugi sekitar 3,5 triliun yen (sekitar 27 miliar dolar AS) karena nilai portofolionya anjlok.
- Tahun berikutnya, kerugian kembali berlanjut, membuat banyak pihak mempertanyakan strategi agresif Son dan SoftBank.
Sederhananya SoftBank membeli banyak saham startup teknologi dengan harga mahal ketika pasar sedang euforia. Saat sentimen berbalik dan harga saham jatuh, SoftBank merasakan sakitnya lebih besar daripada kebanyakan investor lain karena ukuran taruhannya sangat besar.
Kini SoftBank bangkit lagi lewat gelombang AI
Meski sempat babak belur, SoftBank tidak berhenti. Mereka justru memutar strategi menuju sesuatu yang lebih fokus pada AI.
Sejak 2023–2025, SoftBank semakin jelas memposisikan diri sebagai “perusahaan AI”:
- Vision Fund dan unit investasi lain mulai memusatkan investasi ke perusahaan-perusahaan AI, data center, dan infrastruktur pendukungnya.
- SoftBank banyak mengalihkan aset lain untuk mendanai gelombang investasi AI ini, misalnya menjual sebagian kepemilikan di T-Mobile dan Nvidia.
Yang sangat penting, SoftBank menjadi salah satu investor besar di OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT
- Laporan terbaru menunjukkan bahwa keuntungan SoftBank melonjak tajam di tahun 2025, terutama karena kenaikan valuasi OpenAI yang signifikan.
- Vision Fund dilaporkan mencatat keuntungan investasi sekitar 3,5 triliun yen hanya dalam satu kuartal, sebagian besar dari OpenAI.
Untuk mendanai dorongan besar ke AI ini, SoftBank:
- Menjual saham Nvidia senilai sekitar 5,8 miliar dolar,
- Menjual sebagian saham T-Mobile,
- Menerbitkan obligasi dan mengambil berbagai fasilitas pinjaman besar,
- Menggunakan sebagian nilai perusahaan chip desain Arm, yang juga dimiliki SoftBank, sebagai jaminan untuk pinjaman.
SoftBank juga:
- Berinvestasi di startup AI seperti Perplexity AI, sebuah perusahaan pencarian berbasis AI yang bertujuan menyaingi cara orang mencari informasi di internet.
- Terlibat dalam proyek besar pembangunan infrastruktur AI di Amerika Serikat bersama berbagai mitra teknologi besar.
Secara singkat: SoftBank mencoba menebus luka masa lalu dengan bertaruh besar pada gelombang AI. Dan sejauh ini, secara angka laba dan pergerakan saham, taruhannya tampak mulai membuahkan hasil meski risikonya tetap sangat besar.
Struktur bisnis utama SoftBank
Meskipun sering disorot sebagai perusahaan investasi, struktur SoftBank sebenarnya terdiri dari beberapa pilar besar:
- Bisnis telekomunikasi di Jepang: Melalui SoftBank Corp., mereka mengoperasikan layanan telepon seluler, internet broadband, dan solusi korporasi di Jepang. Bisnis ini relatif stabil, memberikan arus kas yang konsisten yang kemudian dapat digunakan untuk mendanai investasi lain.
- Bisnis internet & digital: SoftBank punya hubungan dengan berbagai platform digital di Jepang, termasuk Yahoo! Japan dan LINE (yang kini berada di bawah grup LY Corporation). Bidang ini mencakup iklan digital, e-commerce, fintech, dan layanan online lainnya.
- Arm Holdings: Arm adalah perusahaan desain chip yang arsitekturnya dipakai oleh hampir semua smartphone di dunia. SoftBank membeli Arm pada 2016, dan kemudian melepasnya ke pasar publik lewat IPO, namun tetap memegang kepemilikan mayoritas. Arm menjadi salah satu aset kunci SoftBank, terutama di era AI yang butuh banyak chip dan efisiensi energi.
- SoftBank Vision Fund dan investasi lainnya: Ini adalah portofolio global SoftBank: startup teknologi, perusahaan AI, fintech, logistik, robotika, dan sebagainya. Nilai portofolio ini naik-turun mengikuti kondisi pasar saham dan valuasi private market.
- Fintech dan pembayaran: Misalnya PayPay di Jepang, layanan pembayaran digital yang berkembang pesat dan menjadi salah satu platform pembayaran terbesar di negara tersebut.
Bagaimana SoftBank menghasilkan uang?
Secara sederhana, sumber pendapatan dan nilai SoftBank datang dari:
1. Laba operasional dari bisnis telekomunikasi dan digital
- Pendapatan dari pelanggan seluler, broadband, dan layanan korporasi.
- Pendapatan iklan dan layanan digital lainnya.
2. Keuntungan (atau kerugian) dari investasi
- Saat Vision Fund menjual saham suatu perusahaan dengan harga lebih tinggi dari harga belinya, SoftBank mencatat keuntungan.
- Sebaliknya, jika valuasi turun atau saham dijual rugi, SoftBank mencatat kerugian. Ini yang menyebabkan laporan laba-rugi SoftBank sangat fluktuatif dari tahun ke tahun.
3. Kenaikan nilai (unrealized gains)
- Bahkan sebelum menjual saham, jika nilai portofolio naik berdasarkan harga pasar terbaru, SoftBank bisa mencatat “keuntungan di atas kertas”.
- Inilah kenapa keuntungan SoftBank melonjak besar dalam laporan tahun 2025 ketika valuasi OpenAI dan beberapa aset AI lainnya naik tajam.
4. Pengelolaan dana (management fee)
- Untuk sebagian dana, terutama dari investor eksternal di Vision Fund, SoftBank bisa memperoleh fee manajemen dan bagian dari keuntungan (carried interest), mirip dengan model bisnis private equity dan venture capital lainnya.
Model seperti ini membuat SoftBank bisa sangat kaya saat pasar sedang bagus tapi juga sangat terpukul saat pasar jatuh.
Risiko besar dan kritik terhadap SoftBank
Ukuran dan gaya investasi SoftBank membuat perusahaan ini selalu berada di bawah sorotan. Beberapa risiko dan kritik utama:
- Leverage dan kebutuhan dana yang besar: Untuk mendanai taruhannya di AI, SoftBank menjual berbagai aset, mengeluarkan obligasi, dan mengambil pinjaman dalam jumlah besar. Analis memperkirakan komitmen investasi AI mereka mencapai puluhan miliar dolar, sementara kemampuan pendanaan yang tersedia belum tentu seimbang. Ini menimbulkan kekhawatiran: kalau kondisi pasar tiba-tiba memburuk, apakah SoftBank punya cukup likuiditas?
- Konsentrasi di sektor dan tema tertentu: SoftBank sekarang sangat terkonsentrasi di tema AI. Bila ternyata valuasi perusahaan AI terbukti terlalu mahal (bubble), koreksi besar bisa kembali memukul Vision Fund seperti yang terjadi di sektor teknologi tahun-tahun sebelumnya.
- Jejak kegagalan masa lalu: Kasus WeWork dan startup gagal lain masih menjadi “bayangan” yang membuat sebagian investor ragu. Mereka khawatir pola yang sama berulang: euforia, valuasi terlalu tinggi, lalu koreksi drastis.
- Kompleksitas struktur dan transparansi: SoftBank adalah konglomerat dengan banyak anak perusahaan, dana, dan struktur keuangan yang kompleks. Beberapa analis menilai sulit untuk menilai “nilai wajar” SoftBank secara sederhana, sehingga sahamnya sering diperdagangkan dengan diskon terhadap nilai aset bersihnya.
Meski demikian, ada juga sisi positif: ketika taruhannya berhasil, imbal hasilnya bisa sangat besar. SoftBank adalah contoh ekstrim dari strategi “high risk, high reward”.
Pelajaran untuk investor ritel: apa yang bisa kita ambil dari SoftBank?
Meskipun SoftBank bermain di liga yang sangat berbeda dengan investor ritel, ada beberapa pelajaran menarik:
- Visi jangka panjang itu penting, tapi harus diimbangi manajemen risiko: Masayoshi Son punya visi besar dan keberanian, itu yang membuatnya berhasil di Alibaba dan beberapa investasi lain. Tapi tanpa keseimbangan risk management, visi besar bisa berubah jadi kerugian besar.
- Jangan terpukau hanya oleh valuasi tinggi dan hype: Banyak investasi Vision Fund di masa lalu didorong oleh narasi “disrupsi” dan “pertumbuhan tanpa batas”, tapi ternyata model bisnismya rapuh atau tata kelolanya buruk. Sebagai investor ritel, kita perlu tetap kritis terhadap narasi, tidak hanya mengikuti hype.
- Diversifikasi itu penting: SoftBank sendiri sebenarnya cukup terdiversifikasi (telekomunikasi, Arm, fintech, dsb.), tapi Vision Fund-nya terkonsentrasi di startup teknologi berisiko tinggi. Untuk investor ritel, terlalu fokus pada satu sektor atau tema dapat berbahaya.
- Pahami sumber keuntungan perusahaan: SoftBank menggambarkan bagaimana laporan laba-rugi bisa sangat dipengaruhi oleh nilai portofolio investasi. Ketika membaca laporan keuangan perusahaan sejenis (holding, investasi), kita perlu memahami mana yang laba operasional stabil dan mana yang hanya kenaikan nilai di atas kertas.
- Teknologi AI memang menjanjikan, tapi tetap butuh seleksi: SoftBank bertaruh besar di AI, terutama lewat OpenAI dan ekosistem di sekitarnya. AI memang berpotensi besar, namun tidak berarti semua perusahaan AI akan berhasil. Investor ritel perlu menyadari bahwa di balik cerita sukses, akan ada banyak perusahaan yang gagal.
SoftBank sebagai cermin dunia teknologi modern
SoftBank adalah cerminan dari dunia teknologi modern,
- Penuh visi besar dan janji masa depan,
- Didukung modal sangat besar,
- Berisi kombinasi kemenangan spektakuler dan kejatuhan dramatis.
Dari distributor software kecil di Jepang, mereka bertransformasi menjadi konglomerat global yang menggabungkan telekomunikasi, chip, fintech, dan investasi teknologi di seluruh dunia. SoftBank Vision Fund menjadikan mereka pemain utama dalam pendanaan startup teknologi, sementara kini fokus baru di AI dan infrastruktur digital membuat SoftBank kembali berada di garis depan revolusi teknologi.
Apakah strategi “all-in AI” SoftBank akan menjadi kisah sukses besar berikutnya seperti Alibaba, atau justru mengulang luka seperti WeWork dalam skala lebih besar, masih menjadi tanda tanya. Yang jelas, selama Masayoshi Son masih memimpin, SoftBank kemungkinan akan terus menjadi salah satu perusahaan paling menarik dan paling ekstrem di pasar global.