Tokoh | Selasa, 18 November 2025

Li Ka-shing Dari Buruh Pabrik Menjadi Raja Bisnis Asia

11 Min Read 3 Views
thumb

Li Ka-shing sering dijuluki “Superman dari Asia”. Bukan karena punya kekuatan super, tapi karena kemampuannya mengubah hidup dari anak miskin pengungsi perang menjadi salah satu orang terkaya dan paling berpengaruh di Hong Kong dan bahkan di dunia.

Di balik angka kekayaannya yang fantastis, perjalanan Li Ka-shing penuh kerja keras, pilihan berani, dan cara berpikir yang bisa jadi pelajaran buat siapa saja yang tertarik pada bisnis, investasi, maupun pengembangan diri.

Di bawah ini adalah pembahasan lengkap tentang kehidupan, perjalanan bisnis, gaya investasi, sampai aktivitas filantropi Li Ka-shing.


1. Latar Belakang dan Masa Kecil: Dari Pengungsi Perang ke Buruh Pabrik

Li Ka-shing lahir pada 29 Juli 1928 di Chaozhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok, dalam keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga biasa.

Masa kecilnya tidak berjalan mulus. Ketika Jepang menginvasi Tiongkok pada akhir 1930-an, keluarganya terpaksa mengungsi ke Hong Kong untuk menyelamatkan diri. Hidup di negeri orang, mereka hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Tidak lama kemudian, ayahnya meninggal karena penyakit TBC.

Kondisi keluarga yang jatuh miskin membuat Li kecil harus berhenti sekolah sekitar usia 15 tahun. Sementara banyak orang di usia itu masih bisa belajar dan bermain, Li harus langsung turun ke dunia kerja. Ia bekerja di pabrik plastik sebagai pegawai biasa, dengan jam kerja sekitar 16 jam per hari.

Meski hidup sulit, ada beberapa hal penting yang membentuk karakternya,

  1. Disiplin kerja ekstrem: Bekerja 16 jam sehari membuatnya terbiasa dengan kerja keras dan ketahanan mental.
  2. Rasa tanggung jawab tinggi: Dia menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal.
  3. Belajar secara otodidak: Karena berhenti sekolah, ia banyak belajar dari buku bisnis, majalah perdagangan, dan mengamati orang sukses di sekitarnya.

Dari sini, kita bisa melihat pola menjadi kaya, Li Ka-shing tidak punya “privilege” pendidikan tinggi atau modal besar. Tapi dia punya kombinasi disiplin, rasa tanggung jawab, dan kemauan belajar yang kuat.


2. Awal Karier dari Salesman menjadi Pengusaha Plastik

Setelah beberapa tahun bekerja di pabrik, Li naik posisi menjadi salesman. Di sini dia belajar hal penting yaitu,

  • Cara bernegosiasi dengan pelanggan
  • Memahami kebutuhan pasar
  • Mengelola relasi bisnis
  • Menghitung keuntungan dan biaya secara praktis

Pengalaman sebagai salesman ini sangat berharga, karena menjadi dasar keahliannya membaca peluang bisnis.

Pada tahun 1950, di usia sekitar 22 tahun, Li memutuskan untuk mendirikan perusahaannya sendiri di bidang manufaktur plastik, dengan nama Cheung Kong Industries. Modal awalnya berasal dari tabungan sendiri dan pinjaman keluarga.

Keputusan ini memiliki banyak risiko, karena dia,

  • Tidak punya gelar pendidikan formal
  • Tidak punya jaminan kesuksesan
  • Hidup di lingkungan yang masih rentan secara politik dan ekonomi

Namun, Li melihat bahwa plastik adalah bahan masa depan yang murah, fleksibel, dan dibutuhkan di banyak sektor. Ia mulai dari produk plastik biasa, lalu menemukan satu “produk emas” yaitu bunga plastik.

Kenapa bunga plastik?

Li rajin membaca majalah perdagangan internasional dan menemukan tren bahwa bunga plastik mulai populer di Amerika dan Eropa.

Ia melakukan beberapa langkah strategis seperti,

  1. Meningkatkan kualitas: Dia belajar teknik pencampuran warna dan bahan agar bunga plastik terlihat mirip bunga asli.
  2. Menekan harga: Dia mencari cara produksi efisien sehingga bisa menjual dengan harga kompetitif.
  3. Fokus ekspor: Dia membidik pasar luar negeri yang permintaannya tinggi.

Keputusannya terbukti tepat. Setelah sebuah perusahaan asing besar datang memesan dalam jumlah besar, pabrik Li berkembang pesat. Dalam beberapa tahun, ia menjadi salah satu pemasok bunga plastik terbesar di Asia.

Pelajaran penting dari fase ini adalah,

  • Li tidak hanya ikut-ikutan, tapi mencari tren global.
  • Masuk ke produk yang kelihatannya sederhana, tapi memiliki pasar besar dan bisa di-skala-kan.
  • Berani bermain di pasar internasional, bukan hanya lokal.


3. Beralih ke Properti: Keputusan Berani di Tengah Krisis

Setelah sukses di bisnis plastik, Li tidak berhenti di situ. Di akhir 1950-an, dia mulai tertarik pada bisnis properti.

Awalnya, dia membeli tanah untuk membangun pabrik sendiri, karena melihat biaya sewa yang cenderung naik. Namun, titik balik besarnya terjadi pada tahun 1967, ketika Hong Kong dilanda kerusuhan sosial dan politik yang cukup serius. Banyak orang kaya dan perusahaan asing panik, menjual properti mereka dan kabur dari Hong Kong. Harga tanah dan bangunan jatuh drastis.

Kebanyakan orang menganggap masa depan Hong Kong suram. Namun Li justru melihat kesempatan. Dengan keyakinan bahwa krisis ini hanyalah sementara, maka dia,

  • Menggunakan uang yang dia kumpulkan dari bisnis plastik
  • Membeli banyak tanah dan properti dengan harga murah
  • Menimbun aset saat orang lain menjual

Keberanian mengambil posisi “berlawanan dengan mayoritas” ini menjadi salah satu kunci kesuksesannya di properti.

Pada tahun 1971, dia meresmikan perusahaan properti dengan nama Cheung Kong Holdings, terinspirasi dari Sungai Yangtze (Chang Jiang), sungai terpanjang di Tiongkok yang melambangkan kekuatan besar yang terbentuk dari banyak aliran kecil.

Cheung Kong kemudian go public di Bursa Hong Kong pada tahun 1972. Dengan dana dari pasar modal, Li makin agresif mengembangkan proyek-proyek properti residensial, komersial, dan industri.

Salah satu tonggak besar perusahaannya adalah ketika Cheung Kong memenangkan tender pengembangan lahan di atas stasiun MTR Central dan Admiralty pada tahun 1977, mengukuhkannya sebagai salah satu pengembang properti terkuat di Hong Kong, menantang dominasi perusahaan lama seperti Hongkong Land.

Dari sini terlihat jelas pola pikir Li:

  • Berani ketika orang lain takut
  • Melihat krisis sebagai diskon besar-besaran untuk aset bagus
  • Menggunakan keuntungan dari satu bisnis (plastik) untuk membangun kerajaan di bidang lain (properti)


4. Membangun Konglomerat Global CK Hutchison dan Diversifikasi

Seiring waktu, bisnis Li berkembang jauh melampaui properti. Melalui akuisisi dan ekspansi, ia membangun konglomerat global dengan berbagai lini usaha.

Pada 1979, Cheung Kong mengambil alih Hutchison Whampoa, sebuah perusahaan besar yang sudah tua dan punya aset berharga, termasuk pelabuhan dan bisnis lain. Dari sini, cikal-bakal CK Hutchison Holdings terbentuk.

Saat ini, grup usahanya mencakup:

  1. Telekomunikasi: Melalui berbagai operator seluler di Eropa dan Asia.
  2. Pelabuhan dan infrastruktur: Mengelola puluhan pelabuhan di banyak negara, investasi di energi, transportasi, dan utilitas.
  3. Ritel: Lewat jaringan A.S. Watson Group, yang mengelola lebih dari 15.000 toko seperti Watsons, Superdrug, dan lain-lain di Eropa dan Asia.
  4. Properti & aset: Di bawah CK Asset Holdings, fokus pada pengembangan dan manajemen properti.
  5. Investasi keuangan & teknologi: Melalui berbagai kendaraan investasi.

Pada tahun 2015, Cheung Kong dan Hutchison Whampoa digabungkan dan direstrukturisasi menjadi CK Hutchison Holdings dan CK Asset Holdings, untuk menyederhanakan struktur dan meningkatkan fokus bisnis.

Meskipun Li Ka-shing resmi pensiun sebagai chairman pada 2018, ia tetap menjabat sebagai senior advisor, sementara operasional sehari-hari dilanjutkan oleh putranya, Victor Li.


5. Gaya Investasi “Superman” yang Sangat Rasional

Li Ka-shing dikenal sebagai investor yang:

  • Sangat rasional
  • Tidak emosional
  • Fokus pada nilai jangka panjang

Beberapa ciri khas gaya investasinya yaitu,

Beli saat murah, sabar menunggu

Contoh terbaik adalah ketika ia membeli lahan di Hong Kong saat harga jatuh karena kerusuhan. Ia tidak ikut panik, tapi justru memanfaatkan situasi.

Di kemudian hari, banyak analis menyebut gaya ini sebagai kombinasi,

  • Value investing dengan mencari aset yang undervalued
  • Contrarian yang berani melawan arus ketika mayoritas takut

Diversifikasi sektor dan wilayah

Ia tidak terpaku pada satu sektor. Setelah plastik, ia masuk ke properti, pelabuhan, telekomunikasi, ritel, hingga infrastruktur utilitas. Secara geografis, bisnisnya tersebar di Asia, Eropa, dan bagian lain dunia.

Diversifikasi ini dapat mengurangi risiko jika satu sektor atau wilayah bermasalah dan memberikan sumber pendapatan yang stabil dari berbagai lini.

Berani masuk teknologi

Meski berasal dari generasi lama dan background non-teknis, Li tidak menutup diri terhadap teknologi. Melalui Horizons Ventures dan Li Ka Shing Foundation, ia berinvestasi di berbagai startup teknologi seperti Facebook, Spotify, Siri, dan perusahaan teknologi lainnya sejak tahap awal. Ini menunjukkan bahwa dirinya peka terhadap perubahan zaman dan mengerti bahwa masa depan banyak ditentukan oleh inovasi teknologi

Tahu kapan harus melepas

Baru-baru ini, CK Hutchison setuju menjual sebagian besar bisnis pelabuhannya, termasuk aset penting di dekat Terusan Panama, kepada konsorsium yang dipimpin BlackRock senilai sekitar 22,8 miliar dolar AS. Kesepakatan ini diperkirakan membuat Li dan keluarganya mendapatkan lebih dari 19 miliar dolar AS, meski menimbulkan kontroversi geopolitik dan kritik dari Beijing.

Langkah ini menunjukkan bahwa dia,

  • Tidak “jatuh cinta” pada aset
  • Siap menjual jika merasa valuasi sudah optimal
  • Berpikir strategis, meskipun harus menghadapi tekanan politik


6. Filantropi "Mendonasikan Kekayaan Kedua"

Salah satu sisi paling menarik dari Li Ka-shing adalah peran besar sebagai filantropis. Melalui Li Ka Shing Foundation (LKSF) yang didirikan tahun 1980-an, ia telah menyumbangkan lebih dari HK$30 miliar (puluhan triliun rupiah) untuk berbagai program pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan.

Beberapa kontribusi besarnya:

  1. Shantou University: Didirikan pada 1981 di provinsi asalnya, Guangdong. Ini adalah satu-satunya universitas negeri di Tiongkok yang didirikan dan dibiayai oleh individu. Ia telah mengucurkan dana lebih dari HK$12 miliar untuk pengembangan universitas dan fakultas kedokterannya.
  2. Dukungan kesehatan dan hospice care: Program “Heart of Gold” menyediakan layanan perawatan paliatif dan hospice di berbagai kota di Tiongkok, membantu pasien-pasien dengan penyakit berat dan keluarga mereka.
  3. Donasi ke universitas dan lembaga riset di Hong Kong: Termasuk Fakultas Kedokteran Universitas Hong Kong dan Chinese University of Hong Kong, untuk riset medis, biologi, dan kecerdasan buatan.
  4. Respons cepat terhadap pandemi dan krisis sosial: LKSF menyumbang ratusan juta dolar Hong Kong untuk membantu tenaga kesehatan di Wuhan dan Hong Kong selama pandemi COVID-19, serta mendukung berbagai program bantuan sosial dan UMKM.

Li pernah menyatakan bahwa ia menganggap yayasannya sebagai “usaha ketiganya” dan menyebut filantropi sebagai bentuk “investasi sosial”. Baginya, kekayaan bukan hanya untuk diwariskan kepada anak-anak, tetapi harus berputar kembali ke masyarakat untuk menciptakan dampak jangka panjang.


7. Filosofi Hidup dan Pelajaran dari Li Ka-Shing

Dari perjalanan hidup Li Ka-shing, ada beberapa prinsip yang sering dikutip dan bisa dijadikan inspirasi.

Pendidikan tidak selalu formal, tapi belajar wajib

Li tidak menyelesaikan pendidikan formal karena terpaksa berhenti sekolah. Namun, dirinya tidak berhenti belajar dia,

  • Rajin membaca majalah perdagangan dan berita bisnis internasional
  • Belajar sendiri tentang tren pasar dan teknologi
  • Mengamati perilaku pengusaha sukses dan menerapkannya

Pesannya jelas bahwa pendidikan formal penting, tapi yang lebih penting adalah kemauan terus belajar.

Manfaatkan waktu muda untuk kerja keras

Di usia belasan hingga 20-an, Li bekerja hingga 16 jam sehari. Banyak orang menganggap ini “terlalu keras”, tapi buat Li, fase itu adalah fondasi yang membuatnya, menguasai detail operasional, menjadi sangat disiplin, dan memiliki daya tahan menghadapi tekanan.

Ini memberi gambaran bahwa “masa muda sebagai masa menanam” benar-benar dia jalani, bukan sekadar slogan.

Berani mengambil risiko yang diperhitungkan

Li tidak asal nekat tapi dia,

  • Mengambil risiko masuk bisnis bunga plastik setelah riset
  • Membeli properti saat krisis setelah menilai bahwa situasi akan pulih
  • Masuk ke startup teknologi setelah melihat potensi jangka panjang

Jadi, risikonya bukan berjudi secara buta, melainkan risiko yang diperhitungkan berdasarkan data dan intuisi yang diasah pengalaman.

Krisis sebagai peluang

Kisahnya membeli aset properti saat Hong Kong mengalami kerusuhan adalah contoh klasik bagaimana ia memanfaatkan krisis. Di saat banyak orang hanya melihat ancaman, Li dapat melihat harga aset bagus yang tiba-tiba diskon dan peluang jangka panjang ketika situasi sudah stabil.

Ini sejalan dengan prinsip banyak investor besar yaitu, “Be fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful.”

Kekayaan untuk memberi manfaat

Lewat yayasan dan donasinya, Li menunjukkan bahwa:

  • Kekayaan punya dimensi sosial
  • Pengusaha besar punya tanggung jawab terhadap masyarakat
  • Filantropi bisa dibuat sistematis dan strategis, bukan sekadar “bagi-bagi uang”

Baginya, filantropi adalah bentuk “bisnis lain yang keuntungannya dinikmati masyarakat”.


8. Posisi Li Ka-Shing di Dunia Saat Ini

Meskipun sudah pensiun dari jabatan utama, Li masih menjadi figur penting di dunia bisnis Hong Kong dan global. Ia adalah pendiri CK Hutchison dan CK Asset, dua perusahaan besar yang masih memegang aset dan operasi di berbagai negara.

Sebagai salah satu orang terkaya di Hong Kong, ia beberapa kali memuncaki daftar orang terkaya versi Forbes dan publikasi lainnya, dan tetap menjadi simbol keberhasilan dari nol.

Kontroversi juga tidak lepas dari tokoh sebesar dirinya. Kesepakatan penjualan sebagian besar bisnis pelabuhan CK Hutchison kepada konsorsium yang dipimpin BlackRock, termasuk aset di sekitar Terusan Panama, memicu reaksi politik dan ketegangan geopolitik antara China, Hong Kong, dan kepentingan Barat.

Namun, di balik berbagai dinamika itu, perjalanan Li tetap menjadi salah satu kisah paling kuat tentang,

  • Migran pengungsi perang yang membangun imperium global
  • Pengusaha yang menggabungkan kerja keras, kecerdasan bisnis, dan kepedulian sosial
  • Orang kaya yang secara aktif mengembalikan sebagian besar kekayaannya untuk pendidikan dan kesehatan masyarakat


9. Apa yang bisa Kita Pelajari dari Li Ka-Shing?

Jika disimpulkan, beberapa pelajaran utama dari kehidupan Li Ka-shing adalah:

  1. Latar belakang bukan takdir.
  2. Dia lahir miskin, menjadi pengungsi, kehilangan ayah di usia muda, dan terpaksa berhenti sekolah. Namun, semua itu tidak menghentikannya untuk belajar dan berjuang.
  3. Kerja keras + belajar = kombinasi minimum untuk naik kelas.
  4. Kerja 16 jam sehari mungkin ekstrem, tapi itu menunjukkan betapa seriusnya dia terhadap masa depannya. Ditambah kebiasaan membaca dan menganalisis membantu dalam membangun pondasi pengetahuan yang kuat.
  5. Berani memulai bisnis, meski modal terbatas.
  6. Dengan tabungan dan pinjaman keluarga, dia memulai bisnis plastik, lalu berani fokus pada satu produk yaitu bunga plastik yang sedang tren secara global.
  7. Melihat krisis sebagai peluang jangka panjang.
  8. Keputusan membeli properti ketika semua orang menjual adalah langkah yang kemudian mengangkatnya menjadi raksasa properti Hong Kong.
  9. Diversifikasi dan adaptasi terhadap zaman.
  10. Dari plastik ke properti, pelabuhan, telekomunikasi, ritel, hingga teknologi startup, Li menunjukkan fleksibilitas tinggi sebagai pengusaha dan investor.
  11. Filantropi sebagai kewajiban moral dan sosial.
  12. Dengan mendirikan Li Ka Shing Foundation dan menyumbangkan puluhan miliar dolar, dia menegaskan bahwa kesuksesan finansial idealnya juga berbuah manfaat bagi orang banyak.

Kisah Li Ka-shing tidak hanya tentang menjadi kaya, tapi tentang bagaimana seorang individu bisa mengubah nasib diri, keluarga, dan memberikan dampak besar bagi masyarakat melalui kombinasi kerja keras, keberanian mengambil risiko, dan komitmen untuk berbagi.

Artikel Terbaru

Video Terbaru